Home » , » ROCK IN SOLO 2013 : Goresan Sejarah Yang Terukir Dengan Megah

ROCK IN SOLO 2013 : Goresan Sejarah Yang Terukir Dengan Megah

ROCK IN SOLO 2013 : New World Propaganda telah usai dihelat pada Sabtu dan Minggu, 2 & 3 November 2013 di Lapangan Kota Barat, Surakarta. Sebanyak 24 band ambil bagian dalam event yang pada tahun ini digelar untuk ketujuh kalinya. Ribuan metalhead dari berbagai penjuru pun hadir. Lalu apa saja yang menarik dari dua hari penyelenggaraan festival cadas terbesar di Jawa Tengah ini? 


Kalau ditanya apa yang menarik, niscaya akan seabreg-abreg jawabannya. Karena ROCK IN SOLO nampaknya telah melangkah lebih jauh dalam sejarah perhelatannya.

Bagi sebagian masyarakat Solo yang kurang mengikuti dinamika urban dan budaya kota ini, perhelatan ROCK IN SOLO mungkin tidak terlalu mereka gubris meski banyak billboard, banner dan poster tentang penyelenggaraan ROCK IN SOLO 2013 sudah tersebar di berbagai penjuru kota berhari-hari sebelum acara diadakan. 

Tapi jangan tanyakan hal itu kepada para metalhead. Bagi mereka, ROCK IN SOLO adalah sebuah peristiwa besar yang setiap tahun selalu ditunggu kabar terbarunya. Banyak di antara mereka yang berasal dari luar Kota Solo dan sudah berada di Kota Bengawan satu atau dua hari sebelum acara berlangsung. 

Acara ini sudah seperti ritual tertentu bagi mereka. Ya, ribuan metalhead itu memang datang dari berbagai kota seperti Surabaya, Jakarta, Yogyakarta bahkan kota-kota yang lebih kecil seperti Madiun dan Kediri, atau wilayah yang lebih jauh seperti Banten dan juga dari luar pulau Jawa seperti Aceh. 

Akhir pekan cadas di Kota Solo

Jika melihat poster atau billboard ROCK IN SOLO yang banyak terpampang di jalanan Kota Solo, kesan yang muncul pastilah tidak jauh-jauh dari sangar atau seram. Baphomet skull dalam berbagai pose. Itulah karakter yang menjadi identical icon bagi festival ROCK IN SOLO. Sejak 2009 karakter ini hampir selalu muncul. Dia hanya menghilang sementara pada edisi 2012 tapi muncul lagi pada 2013. Dia muncul di berbagai promotional tools dan terkadang juga menjelma di backdrop panggung. 

Melihat simbol yang digunakan, yang terbayang pastilah sebuah perhelatan festival yang serba bising dan memekakkan, menakutkan, tidak aman dan sebagainya. Tapi ketahuilah, anda tak akan benar-benar tahu rasa sesuatu sebelum merasakannya sendiri. 

Tidak seperti pada tahun 2011 dan 2012, edisi tahun 2013 menjadi edisi ROCK IN SOLO yang saya ikuti full time sejak awal siang hari hingga selesai malam hari selama dua hari, tanpa meninggalkan venue jika tak ada keperluan penting di luaran [yang untungnya tidak ada]. Saya juga lebih banyak berkeliling venue. Saya ingin merasakan spirit festival ini secara keseluruhan. 

Entah karena saya yang banyak beredar atau memang penyelenggara mencoba menyodorkan konsep yang agak berbeda dalam edisi 2013, saya banyak menemukan hal-hal menarik di luar konser musiknya itu sendiri. Tapi baiklah, mari kita ulas dulu cerita tentang konser musiknya, namun saya tak akan membahasnya terlalu detil. 

ROCK IN SOLO 2013 dibuka dan ditutup oleh dua band yang namanya berawalan dengan huruf B, yaitu Bankeray dan Behemoth. Di antara keduanya ada 22 band lain yang ikut habis-habisan menghentak panggung utama World Stage yang berdiri di sisi utara Lapangan Kota Barat. Itulah atraksi utama dari ROCK IN SOLO 2013. 

Band thrash metal asal Karanganyar, Bankeray, didapuk jadi band pembuka pada hari Sabtu, 2 November 2013. Siang-siang terik pukul 13:00 WIB, lima anak muda ini tampil cukup rapi dan bersemangat meski baru segelintir penonton yang datang. 

Djin
Pada siang hari pertama itu juga tampil band death metal asal Bali dan Malang, yaitu Infectous Arteries dan Nadi, lalu ada juga band asal Wonogiri Sisi Selatan, rombongan cadas asal Tenggarong Kapital, unit rap hardcore asal Solo KM09 dan death metal njlimet dari Medan, Djin. 

Band-band dari berbagai kota di Jawa, Sumatera dan Kalimantan ini menuntaskan sesi siang hari pertama dengan style mereka masing-masing. KM09 yang memasukkan unsur rap serta Djin yang menampilkan peragaan skil musikal cukup menarik perhatian di sore hari itu, apalagi mereka tampil di saat venue sudah lebih ramai oleh para metalhead. 

Jeda magrib dimanfaatkan oleh para metalhead untuk beristirahat, makan minum di area food yang terletak di sisi selatan Lapangan Kota Barat dan juga sholat. Panitia memang menyediakan sebuah mushola yang terletak di belakang media center di sisi timur venue. 

Malam hari pertama ROCK IN SOLO 2013 dimulai dengan penampilan black metal Kedjawen dan disusul berturut-turut oleh dua band ganas yaitu Straightout dan Jihad. Ketiga band ini tampil atraktif di depan crowd yang semakin terlihat menyemut sejak sore hari. Moshing dan circle pit semakin sahih sebagai gerakan wajib selama gempuran tiga band yang masing-masing berasal dari Bogor, Jakarta dan Bandung.

Pemandangan menarik terjadi saat penampilan band tuan rumah, Down For Life. Selain penampilan mereka yang cukup rapi, para metalhead juga bereaksi atraktif dengan bergerak kompak mengikuti irama lagu-lagu Down For Life. Dengan diinstruksi oleh frontman Stephanus Adjie, para metalhead membuat sebuah moshpit besar di depan stage dan wall of death yang gila-gilaan saat intro lagu ‘Liturgi Penyesatan’ dimainkan. Setlist Down For Life rata-rata berisi lagu-lagu dari album baru mereka ‘Himne Perang Akhir Pekan’ yang dirilis pada September 2013 lalu. 

Down For Life [Courtesy: Rock In Solo]
Mantan walikota Solo Joko Widodo sempat hadir tepat saat Down For Life tengah beraksi. Para metalhead sempat tersita sejenak perhatiannya kepada sosok yang kini menjabat gubernur Jakarta itu, sebelum kemudian kembali larut dalam gempuran Down For Life. Meski kehadiran Jokowi sempat membuat suasana menjadi heboh selama beberapa menit, namun sesungguhnya energi para metalhead yang seperti tak ada habisnyalah yang membuat hari pertama ROCK IN SOLO 2013 terasa sangat berkesan.  

Buktinya, begitu Hour Of Penance muncul pada pukul 22:00, para penonton kembali menggila. Band asal Roma, Italia itu pun menggempur tanpa ampun para metalhead yang masih punya tenaga untuk terus berpesta. Sebuah sinergi energi yang luar biasa telah ditunjukkan para metalhead. Mereka terus menggila selama sekitar 1 jam Paolo Pieri dkk tampil dan mengisi udara malam minggu di Kota Solo dengan geberan komposisi death metal. Hari pertama ROCK IN SOLO 2013 pun ditutup dengan trengginas oleh kuartet Italiano itu. 

Tapi itu baru hari pertama. Saya tak tahu berapa ribu orang yang memadati Lapangan Kota Barat pada malam minggu pertama di bulan November 2013 di Kota Solo itu. Namun menurut inside source, sekitar 4000-5000 orang hadir di hari pertama. 

Djiwo
Hari kedua dibuka oleh penampilan Djiwo, sebuah band yang dimotori dua sosok black metal Solo, yaitu Shiva Ratriarkha dan Eep La Guerra. Band berikutnya adalah The Working Class Symphony yang muncul dengan permainan musik folk punk. Sebuah variasi genre yang memikat. Beberapa gelintir penonton merespon dengan menari-nari di depan stage. Unik dan Menarik! 

Jatah tampil di World Stage kemudian diserahkan berturut-turut kepada band heavy rock asal Bekasi The Corals, gerombolan grindcore Jogja Deadly Weapon dan black metal Singapore Ilemauzar yang juga mendapat respon tak kalah antusias. 

Seperti di hari pertama, di hari kedua venue juga mulai ramai oleh penonton pada sore hari. Cuaca agak mendung selepas jeda ashar. Sore hari saat Inlander tampil, sempat turun hujan yang membuat sebagian besar penonton berteduh di tribun sebelah timur. Sementara segerombolan kecil metalhead memilih tetap berada di depan stage bersenang-senang di bawah guyuran hujan bersama band asal Jakarta itu. Beberapa orang dari panitia akhirnya juga ikut turun ke lapangan dan hujan-hujanan bersama penonton saat Inlander memainkan lagu terakhirnya. Ajaib, hujan langsung berhenti setelahnya.

Metal Mike [Psychonaut]
Band thrash asal Perth, Australia Psychonaut mengambil alih panggung setelah Inlander. Tampil dengan balutan sci-fi thrash yang cukup kental, Psychonaut sukses memanaskan kembali suasana yang sempat dingin karena hujan. Sang gitaris, Metal Mike, sempat mendapat applause dari para metalhead saat mengenakan caping sebelum memulai lagu pertama. Caping itu terus dia kenakan hampir sepanjang show. He really had fun with that hat. Haha... Psychonaut memang terlihat senang bisa tampil di ROCK IN SOLO. Sebelum dan setelah tampil, para personilnya nampak membaur dengan para metalhead dan berkeliling venue menikmati suasana festival. 

Seperti hari sebelumnya, jeda magrib pun dimanfaatkan untuk beristirahat, makan minum dan sholat oleh para metalhead. Yang membedakan antara senja di hari pertama dan hari kedua adalah semakin banyaknya gelombang penonton yang masuk ke venue selepas senja di hari kedua. Dalam waktu sekitar satu jam, Lapangan Kota Barat tiba-tiba menjadi penuh oleh para metalhead. Jumlah penonton yang sudah cukup banyak pada sore harinya, menjadi tak berarti dibandingkan jumlah pada malam harinya.

Walhasil, saat band asal Palembang ((Auman)) muncul di World Stage pukul 19:00 WIB, terlihat jelas bahwa venue ROCK IN SOLO 2013 telah berubah menjadi lautan manusia. ((Auman)) yang menghabiskan 38 jam untuk melakukan perjalanan darat dari Bumi Sriwijaya ke Kota Bengawan pun tak ayal langsung menerkam para metalhead dengan buasnya.  Opening songYear Of The Tiger’ pun terdengar seperti panggilan bagi para penonton yang masih berada di luar venue untuk segera masuk. Dan memang, gelombang penonton yang masuk ke venue pun terus berlanjut sepanjang penampilan harimau-harimau Sumatera ini. 

Apa yang terjadi selanjutnya adalah sebuah proses merangkak naiknya epinephrine dalam tubuh, seiring kemunculan band-band seperti Outright, Navicula dan Noxa. Navicula yang muncul dengan musik yang terhitung lebih ‘kalem’ dibanding yang lainnya pun mendapat respon yang tak kalah antusias. Sebagian penonton ikut bernyanyi saat Navicula memainkan beberapa lagu seperti ‘Metropolutan’ dan sebuah nomor cover version ,milik God Bless, ‘Semut Hitam’. Munculnya Navicula seolah kembali menjadi bukti bahwa ROCK IN SOLO adalah sebuah festival musik yang berusaha mengakomodir semua sub genre musik keras. 

Gerombolan kampret unyu asal Jakarta Noxa muncul sekitar pukul 20:40 tepat setelah Navicula turun panggung. Sederet nomor cepat khas grindcore pun dimuntahkan oleh empat pria yang sudah beberapa kali keliling Eropa ini. Aksi crowd surfing sempat dilakukan oleh sang vokalis, Toge, di tengah-tengah penampilan mereka. Gokil! 

Raksasa penguasa daratan dari Polandia

Aliran deras epinephrine itu akhirnya membludak pada pukul 21:45, saat sang headliner utama Behemoth muncul di World stage di depan ribuan metalhead yang sudah meneriakkan nama mereka saat jeda selama sekitar 30 menit sejak Noxa mengakhiri penampilannya. 

Behemoth [Courtesy: Rock In Solo]
Para metalhead langsung tersentak dan berteriak mengacungkan sign of the horn begitu Nergal dkk menggeber intro keren di lagu pembuka ‘Ov The Fire And The Void’. Sungguh sebuah moment yang luar biasa saat mendengar koor dari ribuan metalhead meneriakkan “I...the son of man..” bersama-sama dengan Nergal dalam lagu ini. To be honest, that was  one of the moment i’ll never forget in my entire life. Because if you’re a true metalhead, moments like that will stay with you for life! 

Tanpa basa-basi lagu kedua pun digelontorkan. Beberapa metalhead sudah langsung berteriak kegirangan saat suara horn dalam intro lagu ini terdengar. Yeah, apalagi kalau bukan ‘Demigod’!. Sebuah komposisi rapat dari album ketujuh mereka yang dirilis pada 2004. 

Band yang sudah berusia 22 tahun ini kemudian juga menggeber lagu-lagu seperti ‘Conquer All’ dan ‘The Seed Ov I”. Yang menarik, ada beberapa penonton yang nampak hanya tertegun saja saat melihat penampilan Behemoth. Ini mungkin karena Behemoth memang band yang selain cerdas menggubah musik, juga piawai dalam urusan visual. Aksi panggung mereka selalu menarik ditonton dengan tema-tema kostum tertentu. 

Nergal [Courtesy: Adia Prabowo]
Jika pada tahun-tahun sebelumnya mereka kerap mengenakan armor sebagai outfit panggung yang seperti melambangkan tema perang, maka kali ini Nergal mulai tampil dengan outfit yang nampak seperti sosok penyihir. Entah apakah ini ada hubungannya dengan album anyar mereka ‘The Satanist’ yang baru akan dirilis pada awal 2014 mendatang.

Bicara tentang materi anyar, di ROCK IN SOLO 2013 mereka juga sempat memainkan sebuah lagu anyar berjudul ‘Blow Your Trumpet, Gabriel!’. Jibril meniup terompet? Ini sepertinya butuh kajian mendalam untuk membahasnya. Atau ini bisa juga tentang gambar geometris hasil kembangan ilmuwan Evangelista Torricelli.

Whatever, yang jelas ini merupakan lagu baru yang akan masuk dalam album baru mereka tahun depan. ‘Blow Your Trumpet, Gabriel” pertama kali dibawakan secara live saat Behemoth bermain di Swedia bulan Agustus lalu. Single ini secara resmi akan mereka rilis pada 4 Desember 2013. Mereka juga sudah membuat teaser lagu baru ini. 

Sambutan yang luar biasa dari para metalhead kembali terjadi saat lagu “At The Left Hand Ov God” dimainkan. Saya sendiri tak sanggup menahan diri untuk ikut menyanyikan lirik lagu yang konon juga menceritakan tentang malaikat Jibril ini. Entah benar atau tidak, makna lagu ini memang masih terus menjadi bahan pembicaraan orang-orang. 

Banyak yang mungkin tidak menyadari bahwa Behemoth datang ke Solo tanpa drummernya, Zbigniew Robert PromiƄski alias Inferno. Drummer yang gabung dengan Behemoth sejak 1997 ini terpaksa absen untuk sementara waktu, karena sedang menjalani recovery pasca operasi usus buntu. Sebagai gantinya, Behemoth mengajak Kerim ‘Krimh’ Lechner, seorang drummer muda 24 tahun asal Austria yang pernah bermain bersama Decapitated. 

Setelah sempat melakukan encore, Nergal dkk akhirnya menutup akhir pekan di Kota Solo dengan memainkan nomor terakhir, 'Lucifer'. Lagu yang liriknya berbahasa Polandia dan diambil dari puisi karya penyair klasik Polandia, Tadeusz Micinski ini sukses menyegel gelaran ROCK IN SOLO 2013 sebagai sebuah perhelatan yang berkelas bukan hanya dari segi suguhan musikalnya saja, namun juga penyelenggaraannya yang profesional. 

Behemoth memang memuaskan para metalhead di ROCK IN SOLO 2013. Mungkin Behemoth adalah headliner paling memikat yang pernah tampil di ROCK IN SOLO. Struktur musikal dan tampilan visualnya sangat menghibur. Dari sejak muncul di atas panggung hingga menghilang, semuanya nampak ditata dengan cermat. Kostum dan gaya mereka saat tampil pun terasa bukan hanya sekadar gimmick, tapi juga memiliki makna dan telah menyatu menjadi sebuah unit branding bernama Behemoth. 

Dua band Eropa menjadi pemuncak acara. Sederetan band dalam negeri juga ikut ambil bagian. Semuanya dengan ciri khas dan kapasitasnya masing-masing berusaha menyuguhkan penampilan yang optimal. Jumlah penonton yang datang juga tidak main-main. Pada hari kedua saya mendapat kabar sekitar 9.000 - 10.000 orang memadati venue. ROCK IN SOLO 2013 pun berlangsung meriah bahkan boleh dibilang megah. 

Tapi seperti yang saya sebut sebelumnya, yang juga tak kalah menarik adalah atmosfir yang tercipta di sana. Selama dua hari penyelenggaraan, Lapangan Kota Barat dipadati oleh ribuan manusia yang dengan semangatnya masing-masing berusaha menikmati sebuah suguhan festival yang digarap dengan profesional. 

Karenanya, saya jadi ingin membahas juga tentang hal-hal yang terjadi di luar keriuhan utama ROCK IN SOLO 2013. Karena cukup menarik mengamati bagaimana sebuah festival yang menyuguhkan musik sebagai menu utamanya bisa dikemas dengan apik sehingga tidak hanya musik saja yang menjadi daya pikatnya. ROCK IN SOLO memang memiliki reputasi sebagai festival musik rock atau metal, namun apa yang tersaji pada edisi ketujuh tahun ini ternyata lebih luas lagi daripada hanya sekadar menyuguhkan musik hingar bingar. Singkatnya, ada beberapa hal yang berbeda kali ini. 

New World Propaganda

Hal pertama yang terasa berbeda kali ini adalah hilangnya kata-kata ‘metal fest’ dari tema resmi hajatan ROCK IN SOLO 2013. Sebelumnya, festival ini hampir selalu memajang kata-kata ‘metal fest’ dalam hampir setiap penyelenggaraannya. Namun untuk tahun ini, kata-kata ‘metal fest’ itu hilang. Sebagai gantinya, dipilihlah sebuah tema yang menyiratkan sebuah pembaruan. Sebuah ‘Renewal’ kalau kata Kreator dalam salah satu albumnya. Dan tema yang dipilih untuk ROCK IN SOLO kali ini adalah ‘New World Propaganda’. Tapi tidak seperti Kreator yang jeblok dengan album ‘Renewal’, ROCK IN SOLO justru gemilang dengan edisi terbarunya. 

Garth Jowett, seorang profesor komunikasi jebolan University of Pennsylvania menyebutkan bahwa propaganda adalah sebuah usaha yang sengaja dan sistematis, untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan kelakuan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan si penyebar propaganda. Jika dilihat dari penyelenggaraan ROCK IN SOLO tahun ini yang berjalan cukup baik termasuk dari segi respon penonton, maka propaganda yang disiarkan nampaknya mendapat reaksi yang sesuai.

Satu hal yang saya amati, ROCK IN SOLO punya kecenderungan untuk berbenah dalam tiap penyelenggaraannya. Gelaran cadas Kota Solo ini hampir selalu melakukan inovasi atau pengembangan. Perkara apa yang dikerjakan mendapat pujian, kritikan atau celaan, itu urusan nanti. 

Seorang entrepreneur yang bernama Steve Jobs pernah mengatakan bahwa  “Inovasi memberikan perbedaan antara pemimpin dan pengikut”. Makna kutipannya bisa jadi lebih dari sekadar membedakan mana pelopor dan mana pengikut. Inovasi dalam cakrawala yang lebih luas sebenarnya adalah sebuah sesuatu yang alami, bahwa tidak ada yang tetap kecuali perubahan itu sendiri. Manusia sebenarnya secara alamiah memiliki kecenderungan untuk melakukan inovasi. 

Sebagai sebuah festival berskala cukup besar, ROCK IN SOLO tentu membutuhkan ide-ide dan tindakan-tindakan inovatif demi menyuguhkan sebuah perhelatan yang berkelas. Inovasi dalam kacamata yang positif bisa disebut sebagai sebuah bentuk perubahan dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya dengan cara memberikan penambahan atau fitur yang membuat sesuatu tersebut menjadi lebih menarik atau lebih baik. 

ROCK IN SOLO terhitung beberapa kali melakukan perubahan-perubahan atau penambahan-penambahan dalam penyelenggaraannya yang tentu saja dimaksudkan untuk membuat acara ini menjadi lebih memikat. 

Mereka pernah mengajak prajurit Keraton Solo untuk ikut berpartisipasi pada penyelenggaraan tahun 2012. Kelompok tari Liong juga pernah dimunculkan untuk memberikan pemahaman kepada para penonton tentang keberagaman masyarakat kota Solo. Tahun 2013 ini mereka melakukan terobosan dengan meluncurkan sebuah paket wisata yang terintegrasi dengan gelaran utama ROCK IN SOLO. 

ROCK IN SOLO juga melakukan variasi genre dalam list para penampilnya. Tidak melulu metal dan para sub genrenya, mereka juga menggandeng band hip-hop dan punk seperti yang terjadi pada tahun 2012. Tahun 2013 mereka menggandeng band-band bernuansa folk rock, alternative dan rap. Pada tahun 2013 mereka juga menampilkan performance beberapa DJ lokal dan klinik musikal di sebuah panggung kecil yang didirikan di area food stall dan diberi nama Propaganda Stage. 

Propaganda Stage
Satu hal lagi yang baru pada tahun 2013 ini dilakukan oleh penyelenggara adalah menyediakan update informasi yang cepat dan menarik tentang pelaksanaan acara. Tim media center ROCK IN SOLO 2013 cukup sigap memberikan update dalam bentuk foto-foto, video-video dan artikel-artikel yang langsung dimuat dalam website resminya sepanjang acara berlangsung dan disiarkan melalui media social Twitter. Walhasil, para penonton bisa mendapat update informasi dengan cepat. Sementara bagi yang tidak berkesempatan hadir, bisa menyimaknya juga melalui website. 

Team Media Center bekerja sepanjang perhelatan
ROCK IN SOLO juga bisa dibilang sebuah festival yang beragam. Festival ini meski dimeriahkan oleh headliner internasional, namun nuansa Indonesianya tetap terjaga. Setidaknya itu bisa dilihat dari para performernya yang didominasi band-band Indonesia dari berbagai daerah dan pulau di negeri ini. Meski demikian, pihak penyelenggara juga tidak sembarangan memilih band-band yang tampil. Mereka punya standar sendiri untuk hal itu. 

Ada juga pemikiran bahwa ini merupakan tahap di mana sebuah proses yang tengah berlangsung mulai mengarah menuju bentuk yang diinisiasikan. Secara itung-itungan, ini merupakan gelaran ketujuh yang sudah dihelat. Meski melakukan beberapa inovasi dan pengembangan, saya juga melihat bahwa pesan awal festival ini tetap terjaga dan perlahan mulai tersampaikan. Salah satunya adalah memberikan edukasi tentang pemahaman bahwa sebuah festival besar membutuhkan kerja keras, pengorbanan dan dukungan, sehingga hal itu sudah sewajarnya diapresiasi oleh berbagai pihak. Semoga ke depannya dukungan terhadap event ini semakin besar. 

Dari anak kecil hingga orang tua

Tahun 2013 merupakan tahun kesembilan sejak The Think Organizer mulai menggagas idenya tentang sebuah perhelatan untuk mengangkat skena musik cadas di Kota Solo yang kemudian terwujud melalui ROCK IN SOLO. Seiring keberadaannya yang hampir satu dasawarsa, ROCK IN SOLO pun semakin berkembang tidak hanya menjadi ajang milik komunitas rock atau metal saja namun boleh dibilang sudah menjadi milik publik umum. 

Banyak hal-hal menarik yang ada di ROCK IN SOLO 2013 selain suguhan utamanya yang berupa konser cadas. Memang aroma rock atau metal tetap terasa karena jiwa dari ROCK IN SOLO memang ada di sana. Tapi itu tidak berarti hal-hal lain di luar metal tidak boleh masuk di dalamnya. Asimilasi ajang ini dengan berbagai aspek yang terdapat di dalam masyarakat –terutama di Kota Solo- telah memberikan warna berbeda dalam penyelenggaraannya. 

Saya melihat bahwa festival ini sekarang lebih friendly. Bisa dilihat dari para penonton yang datang kini tak hanya dari kalangan metalhead saja. Tidak sedikit penonton yang hadir dengan setelan pakaian yang sama sekali tidak metal dan nampak have fun menikmati perhelatan ini. 

Salah satu hal yang mengundang senyum adalah adanya beberapa penonton cilik yang muncul di venue. Saya sempat melihat seorang anak kecil mungkin umur 3 tahunan berlari-lari gembira di dalam venue dengan dikawal orang tuanya. Saya juga sempat menemui sebuah keluarga, ayah ibu dan seorang anak perempuannya berusia 6 tahun yang nampak mondar-mandir di depan stall-stall makanan di food area, sedang memilih-milih makanan. Penampilan mereka sama sekali tidak metal. 

Ada anak kecil bersama orang tuanya di dalam venue ROCK IN SOLO mungkin bisa dijadikan indikator bahwa festival ini tergolong aman. Hal ini juga ditegaskan oleh beberapa petugas keamanan yang mengatakan bahwa menjaga konser rock atau metal masih lebih mudah ketimbang menjaga konser-konser musik genre lain. 

Ada anak kecil, ada pula orang tua. Adalah Pak Bambang yang juga ikut hadir dalam helatan ROCK IN SOLO 2013. Pak Bambang berusia 61 tahun dan berprofesi sebagai tukang parkir sekaligus merupakan penggemar musik keras. Dia pernah ke Jakarta untuk menonton konser Metallica bulan Agustus 2013 lalu. Dia juga rela menabung untuk menonton Metallica dan akhirnya bisa berangkat ke Jakarta bersama teman-teman dari Solo. Mereka yang lebih muda namun sering merengek minta tiket murah atau gratisan untuk sebuah konser seharusnya bisa meniru determinasi ala pak Bambang. 

Menengok sisi timur venue tepat di belakang area media center ada sebuah mushola yang memang disediakan oleh panitia. Perlu diketahui bahwa sepanjang perhelatan berlangsung, mushola itu tak pernah sepi dari jamaah. Yang menarik, pihak penyelenggara menyediakan mushola tersebut karena permintaan dari para metalhead sebelum acara berlangsung dan hal ini juga sudah mereka lakukan tahun 2012 lalu. Di antara ribuan metalhead yang hadir, juga ada beberapa santri yang berasal dari sebuah pondok pesantren di Jombang, Jawa Timur. Sebuah bukti bahwa relijiusitas seseorang itu terletak di akal, hati dan tindakannya. Bukan pada apa yang dikenakannya. 

Mushola tak pernah sepi dari jamaah.
ROCK IN SOLO juga telah membawa dampak bagi tingkat hunian hotel dan penginapan di Solo, utamanya yang terletak di sekitar Lapangan Kota Barat. Selama dua hari, hotel dan penginapan di sekitar venue telah dipesan oleh para metalhead dari luar kota. Kabarnya, kamar dengan rate di bawah IDR 500.000 semuanya full booked. Warung-warung serta penjual makanan dan minuman di luar venue juga ikut ramai dan laris dagangannya. This is really a party for everyone!. 

Bicara tentang makanan, food supply juga tersedia di dalam venue dan terbilang cukup memadai. Deretan stall makanan tersedia di area sebelah selatan venue dengan berbagai menu makanan. Dagangan mereka juga laris. Beberapa bahkan mengaku sold out, terutama pada hari kedua. Yang menarik, ada beberapa stall makanan yang memilih tutup menjelang Behemoth naik panggung. Alasannya jelas, penjualnya ingin melihat aksi Nergal dkk. 

Salah satu food stall di Rock In Solo 2013 sedang melayani para metalhead.
Hal lain yang juga mengundang kekaguman adalah munculnya kejujuran di kalangan para metalhead. Menghadiri sebuah gelaran festival yang besar seperti ROCK IN SOLO tentu juga tak bisa lepas dari resiko-resiko yang mungkin terjadi. Salah satunya adalah kehilangan barang penting karena satu dan lain hal. Kejujuran menjadi sesuatu yang dibutuhkan dalam situasi seperti itu dan karenanya kita wajib mengacungkan jempol kepada beberapa penonton yang dengan sadar menyerahkan barang-barang milik penonton lain yang hilang atau tercecer kepada pihak panitia. 

Terhitung ada beberapa barang hilang yang sempat mampir dititipkan ke meja panitia seperti dompet, KTP dan handphone sebelum akhirnya diambil kembali oleh yang empunya. Respect yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sudah bersikap jujur dan tidak mengambil kesempatan untuk keuntungannya sendiri dengan memanfaatkan kesulitan orang lain. Itu baru namanya manusia. Itu baru namanya metalhead! 

Tetap bersikap gila

Meski sudah aware dengan ROCK IN SOLO sejak tahun 2010, namun saya baru benar-benar menghadiri gelaran ROCK IN SOLO pada penyelenggaraannya yang kelima tahun 2011. Dalam pandangan saya,  sebuah pesta cadas dengan ribuan metalhead tumplek blek di sebuah venue, bersama-sama menikmati gempuran band-band dalam dan luar negeri mungkin adalah sesuatu yang sebelumnya jarang atau malah belum pernah ada di Kota Solo. 

Setelah gelaran tahun 2011, saya pun mencari tahu lebih jauh tentang ROCK IN SOLO. Dari situlah saya mulai mengetahui tentang sajarah dan seluk beluk acara ini. Dari interaksi dengan individu-individu di balik ROCK IN SOLO, saya juga mulai paham tentang core dari gelaran yang sekarang diadakan tahunan ini. 

Setelah sempat diadakan dua kali pada 2004 dan 2007 dengan deretan band-band dalam negeri, visi ROCK IN SOLO untuk menjadi festival berlevel internasional mulai nampak pada 2009 dengan mulai menggandeng band dari luar negeri yaitu Psycroptic. Tradisi itu kemudian terus berlanjut pada tahun 2010 dengan memanggungkan Dying Fetus. 

Pada edisi 2011 sebanyak enam band internasional digeret ke Solo. Dua di antaranya tergolong band yang punya reputasi di alam heavy metal, yaitu Death Angel dan Kataklysm. Pada 2012 senior death metal Cannibal Corpse diberi kesempatan untuk tampil. Lalu pada 2013, Adam ‘Nergal’ Darski dkk dapat giliran jadi headliner. 


Bukan perkara mudah mengundang dan menampilkan band internasional sekaligus mengorganisir sebuah festival skala besar. Ada dinamika di sana. Ada kekuatan dan keyakinan. Ada kemampuan yang keras kepala untuk menyesuaikan diri dalam berbagai keadaan, yang oleh beberapa Dewan Jenderal ROCK IN SOLO sering disebut sebagai ‘tetap bersikap gila’. Ada darah, air mata dan tetesan keringat jika meminjam istilah mereka. Berlebihan? Sekali lagi saya bilang, you don’t know how it feels until you’re in there yourself. 

Band-band internasional yang sekarang selalu menjadi bagian dari ROCK IN SOLO boleh terlihat memberi kontribusi besar bagi reputasi festival ini, namun sebenarnya kekuatan ROCK IN SOLO terletak pada gairah dan kerja individu-individu di dalamnya yang didukung oleh antusiasme komunitas metal negeri ini. 

Saya tak hendak mengatakan bahwa apa yang dikerjakan oleh anak-anak ROCK IN SOLO adalah sesuatu yang sempurna. Tidak, itu bukan penggambaran yang tepat. Yang saya lihat, mereka adalah manusia-manusia yang terus mencoba bekerja keras. Dan sebenarnya itulah modal utama mereka selama ini, melebihi apapun. Modal yang membuat perhelatan ini bisa terus diadakan. Modal yang membuat publik akhirnya menyadari bahwa musik cadas telah menjadi bagian dari Kota Bengawan. Modal yang mengiringi sebuah proses perkembangan mahakarya yang sudah hampir satu dasawarsa usianya. Yup ini sebuah proses. ROCK IN SOLO wasn’t built in a day. Ini bukan sebuah overnight sensation. 

Kesalahan-kesalahan, besar maupun kecil memang selalu terjadi karena hal seperti itu memang tak bisa dihindari. Sebagai manusia, mereka  juga bisa merasa lelah tiap kali acara ini digelar. Lelah secara fisik maupun pikiran tentunya, yang mungkin membuat beberapa hal terasa tidak optimal. Tapi mereka telah menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang tahu caranya bekerja, dan itu sudah mereka tunjukkan selama hampir 10 tahun. 

Karena ini bukan sekadar tentang siapa band headlinernya atau bakal sebesar apa ROCK IN SOLO nantinya, tapi tentang bagaimana menyuguhkan sebuah persembahan yang akan terus tertulis dalam sejarah. [Ariwan K Perdana/RockenBlast]

ShareThis